Ditengah Upaya Reformasi Polri, Kabag OPS Polres Nagekeo Diduga Tunjukan Sikap Premanisme Kepada Aktivis

SUARANTT.COM,-Ditengah Upaya institusi polri memperbaiki diri (Upaya Reformasi Polri), salah satu anggota Polri AKP. Servulus Tegu yang adalah pejabat Polisi Polres Nagekeo, diduga menunjukan sikap premanisme dengan memberi ancaman kepada mahasiswa aktivis Naris Tursa.

Naris Tursa adalah mahasiswa sekaligus aktivis perhimpunan Mahasiswa Katolik republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang mendapat ancaman dari Servulus Tegu selaku kepala bagian operasi (KABAG OPS) Kepolisian daerah Resor Nagekeo.

Hal ini disampaikan Naris Tursa kepada media ini, Jumat (24/10/2025) di Marga juang PMKRI Kupang.

Naris Tursa mengatakan ditengah Upaya mereformasi institusi Polri, karena citra polri sedang menjadi cibiran rakyat Indonesia dirinya, mendapat ancaman dan intimidasi verbal dari anggota Polri.

Dikatakan Naris Tursa bahwa motif intimidasi adalah perdebatan terkait Sebuah opini dari Pater Steph Tupeng witin digrup Nagekeo Mandiri dengan judul: Ketika keadilan dirampas kekuatan mafia Nagekeo (Menelusuri lebih dalam terjangan mafia Nagekeo)

Dalam opini tersebut menyebut ada Oknum polisi yang diduga kuat terlibat dalam membuat kekacauan di waduk Lambo yakni mantan Kapolres Yudha Pranata dan Polisi Servulus Tegu yan kini menjabat sebagai Kabag Ops Polres Nagekeo. Diperjelas dalam tulisan tersebut bahwa dulu Sarvulus Tegu menjabat Kasat Intel yang menjadi penggerak mafia di lapangan dengan menciptakan konflik untuk mengadu domba warga.

Bahkan dalam tulisan itu menyebut Yudha dan Tegu ini didukung oleh sejumlah wartawan lokal yang tergabung dalam Kaisar Hitam (KH) Destroyer dan para “ATM berjalan” yang publik Nagekeo sudah lama tahu tapi hanya diam saja.

Bahkan opini tersebut menulis keras bahwa, ujung-ujung dari kehadiran dua oknum polisi ini adalah teror dan pemerasan. Banyak polisi yang masih baik dan bernurani di Polres Nagekeo yang tahu kelakuan dua oknum ini tapi memilih bungkam. Banyak elite politik dan birokrasi Nagekeo juga tahu betul fakta ini tapi tidak mampu berbuat apa-apa. Kiblatnya: rakyat kecil khususnya warga terdampak terepresi dalam ketakutan dan teror gerombolan mafia waduk Lambo ini.

Tak terima dengan opini yang diteruskan Naris Tursa ke dalam grup Nagekeo Mandiri, Servulus Tegu lansung mengancam dan mengintimidasi secara verbal melalui via telepon.

Naris Tursa menjelaskan, bahwa Sarvulus Tegu, meminta lokasi tempat tinggal untuk Mendatangi, bahkan mengancam jika masih ingin berkuliah jangan ikut berkomentar terkait persoalan di Nagekeo.

Naris Tursa mengaku ada rasa takut akan keamanan dan kenyamanan dalam beraktivitas, sebab Kabag OPS Polres Nagekeo ini dikabarkan selalu mengintimidasi siapa saja yang mengkritisi kinerjanya. Bahkan kata Naris banyak yang takut dengan sikap dan karakter Sarvulus sebab kerap kali menunjukan sikap premanisme dalam merespon persoalan.

Naris juga mengungkap dirinya bertanya di dalam grup WhatsApp Nagekeo Mandiri, untuk memperjelas persoalan agar masyarakat tidak disesatkan dalam berpikir. Bukan ada niat lain atau tendensius kepada siapapun, namun yang terjadi dirinya di intimidasi.

Untuk mencegah terjadinya hal-hal diluar dugaan, Naris Tursa telah membuat laporan terhadap Kabag OPS Polres Nagekeo di Bidang Profesi dan pengamanan (Bidpropam Polda NTT).

Naris Tursa juga menegaskan, akan membangun komunikasi secara pribadi maupun organisasi kepada semua aktivis yang berada di berbagai organisasi agar bersama-sama melawan sikap premanisme dari anggota polisi.

Lebih jauh, Naris Tursa mengatakan, bukan sekedar ingin membelah diri karena diintimidasi namun perlawanan ini adalah upaya menyelamatkan institusi polri.

“Kita lakukan perlawanan karena kita jaga nama baik institusi Polri, kita mau selamatkan nama Polri karena orang-orang seperti Servulus ini berpotensi membuat citra polri rusak,”ujarnya tegas.

Sementara Servulus Tegu, Kabag OPS Polres Nagekeo saat di konfirmasi media ini membernarkan adanya komunikasi antara mahasiswa aktivis Naris Tursa dengan dirinya melalui via telepon. Namun tidak disangka saat telepon berlangsung Naris Tursa sambil merekam.

Lebih jauh Servulus Tegu menjelaskan, dirinya bermaksud menelpon Naris Tursa untuk meluruskan opini dari Pater Steph yang dikirim ke grup WhatsApp agar masyarakat tidak salah menafsirkan.

Menurut Servulus Tegu, opini tersebut sangat tendensius dan merusak reputasi serta nama baik, sehingga ia tidak terima jika opini tersebut disebarluaskan.

Terakhir Kabag OPS Polres Nagekeo ini menegaskan ia siap untuk membuktikan secara hukum terkait laporan mahasiswa aktivis di Propam Polda NTT. Sebab menurutnya tidak ada unsur pengancaman karena hanya sebatas komunikasi, dengan meminta mahasiswa tersebut untuk tidak menyebarluaskan opini tanpa dasar tersebut didalam grup WhatsApp.

Dirinya juga mengaku sudah ada konfirmasi dari internal Polda NTT, terkait laporan mahasiswa aktivis. Dan sudah dijelaskan bahwa siapapun yang membuat laporan wajib diterima dan semuanya akan kembali pada pembuktian.

Selain itu Servulus Tegu juga mengungkap dirinya telah membuat laporan polisi di polres Nagekeo, terhadap opini dari Pater Steph Witin yang dimuat dalam media online Florespos.com.

Menurutnya opini tersebut, telah mencemarkan nama baiknya dengan menyerang harkat dan martabat sehingga ia bersama kuasa hukumnya membuat laporan agar publik bisa mengetahui fakta yang sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *