Di Bawah Tatapan Soekarno, Anak-anak Bondo Boghila Masih Belajar Tanpa Listrik

​Oleh: Paulus Ngailo
(Mahasiswa Universitas Katolik Weetebula)

Menatap Soekarno dari Kelas SDK Bondo Boghila Tanpa Listrik: Catatan Lapangan Mahasiswa Unika Weetebula Saat Melakukan Penelitian.

​Sebagai mahasiswa Universitas Katolik Weetebula, langkah kaki saya hari itu dituntun oleh sebuah misi akademis, yaitu menyelesaikan tugas akhir melalui penelitian. Langkah tersebut membawa saya ke SDK Bondo Boghila, yang terletak di Desa Bondo Boghila. Saya datang untuk meneliti topik spesifik yang sedang saya kaji demi memenuhi tugas akhir saya. Namun, begitu melangkah masuk ke dalam ruang kelas dan berinteraksi langsung dengan adik-adik di sana, perhatian saya justru teralihkan oleh sebuah realitas yang menyentuh hati sekaligus menampar kesadaran.

​Di dalam kelas, saya menyaksikan pemandangan yang luar biasa: adik-adik siswa SD Katolik Bondo Boghila belajar dengan antusiasme yang begitu tinggi.

Mereka berkumpul di meja kayu, berdiskusi, dan mencatat dengan raut wajah penuh rasa ingin tahu. Namun, di balik semangat yang menyala itu, saya menemukan fakta mendasar yang sangat memprihatinkan.

Sekolah tempat mereka menimba ilmu ini ternyata belum pernah teraliri listrik sejak pertama kali dibangun pada tahun 1961 lebih dari enam dekade yang lalu.

Di era di mana pendidikan sudah sangat bergantung pada media digital, internet, dan perangkat teknologi, adik-adik di SDK Bondo Boghila harus belajar tanpa pernah menyentuh satu pun media digital di kelasnya. Ketiadaan listrik menjadi tembok besar yang membatasi mereka untuk mengakses dunia luar yang kian berkembang pesat.

​Pengalaman saya di lapangan semakin membuka mata ketika mengamati lingkungan sekitar. Ketertinggalan ini bukan hanya dialami oleh SDK Bondo Boghila semata. Perkampungan warga di Desa Bondo Boghila, Pos Kesehatan Desa (Postu) yang menjadi tumpuan warga untuk berobat, hingga Gereja Katolik setempat tempat masyarakat beribadah, semuanya berada dalam kondisi yang sama: hidup tanpa aliran listrik.

​Saat berdiri mendampingi mereka belajar, mata saya tertuju pada sketsa gambar Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno, berwarna merah yang tergantung di dinding kelas. Gambar Bung Karno itu telah ada di sana, seolah mengawasi ruang kelas yang berdiri sejak era 1960-an tersebut. Ada rasa ironi yang mendalam menyusup di dada saya. Sang Proklamator pernah bermimpi besar untuk mencerdaskan kehidupan seluruh anak bangsa. Namun di bawah tatapan gambarnya, generasi penerus di Desa Bondo Boghila masih harus memperjuangkan hak paling dasar mereka: hak atas penerangan dan akses pendidikan modern.

​Fokus tugas akhir saya mungkin berada pada topik lain, tetapi temuan di lapangan ini adalah “suara” yang tidak boleh saya diamkan. Sebagai mahasiswa yang dididik untuk peka terhadap realitas sosial, saya merasa bertanggung jawab untuk menyuarakan kondisi ini. Adik-adik kita di SDK Bondo Boghila tidak kekurangan kecerdasan maupun semangat; mereka hanya kekurangan kesempatan yang adil.

​Sudah saatnya pemerintah dan pihak berwenang membuka mata. Berikan aliran listrik untuk SDK Bondo Boghila, perkampungan warga di Desa Bondo Boghila, Postu, dan gereja di sini. Jangan biarkan cita-cita besar anak-anak ini redup hanya karena negeri ini belum hadir menerangi ruang kelas mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *