Oknum Bendahara Desa dan Istrinya Diadu ke Polisi, Diduga Mencemarkan Nama Baik

SUARANTT.COM,-Oknum bendahara Desa Taman Mataru Harun Atabuna dan istrinya Hagar Atama diduga mencemarkan nama baik orang dan di adukan ke polisi.

Keluarga besar Rayon III yang merasa dicemarkan diwakili oleh Yoel Atakari untuk membuat pengaduan di SPKT Polres Alor pada Senin(14/7/2025).

Yoel Atakari saat dijumpai media suara NTT di Polres Alor usai membuat laporan polisi mengatakan, oknum bendahara desa HA dan Istrinya diduga menuding organisasi rayon III telah melakukan pencurian, sehingga mewakili organisasi rayon untuk membuat laporan polisi.

Dikatakan Yoel Atakari, bahwa pencemaran nama baik atau fitnahan keji tersebut sempat di mediasi oleh pemerintah desa namun tidak berhasil sehingga diberi surat keluasan untuk membuat laporan polisi.

“Sebenarnya kami selesaikan di desa, namun kami dipermalukan didepan umum(ditertawakan saat berbicara) dan tidak bisa selesai di desa akhirnya kami minta surat keluasan untuk ambil langkah hukum,”ujar Yoel Atakari.

Yoel Atakari juga menceritakan kronologis kejadian, bahwa pada hari kamis tanggal 29 Mei 2025, sekitar jam 07:08 Wita warga Rayon III yang saat itu sedang latihan lagu untuk dinyanyikan di Gereja Bet El Lemang di hampiri Hagar Atama lalu berteriak dengan suara lantang, bahwa warga yang ada di Rayon III menyanyi seperti malaikat namun suka mencuri. Saat itu warga tidak membalas karena sedang dalam persiapan untuk mengikuti Ibadah Kenaikan Yesus Kristus sebab lonceng gereja sudah berbunyi.

“Kamu orang rayon III berdiri didepan menyanyi sama ke malaikat tapi tukang pencuri semua,” tutur Yoel menirukan suara Hagar Atama.

Tak sampai disitu, dikatakan Yoel Atakari keributan kembali terjadi setelah keluar gereja, warga rayon III dibombardir dengan kata-kata yang tidak pantas oleh Harun Atabuna dan istrinya Hagar Atama.

Menurut Yoel Atakari, peristiwa tersebut merupakan hal yang tidak pantas, dan sangat mencederai nama baik dan menyerang kehormatan orang lain. Sehingga semua orang tua dan anak-anak bersepakat untuk mengadu ke pemerintah desa dan akhirnya dilanjutkan ke pihak penegak hukum.

“Keluarga besar Rayon III, ada banyak orang tua rambut putih (uban) yang merasa dirugikan termasuk kita anak-anak juga, teriak pencuri itu bukan bahasa yang pantas diucapkan kepada kelompok atau komunitas, jadi kami semua sudah sepakat untuk lapor polisi karena nama baik dan kehormatan kami diserang,”bebernya.

Yoel Atakari, mengungkap pengaduannya sudah lansung diantar oleh anggota polisi ke meja kapolres untuk di ACC, dan akan ditindak lanjuti.

Secara terpisah, salah satu warga rayon III, Yakni Osias Atamoi kepada media ini, menceritakan bahwa kejadian saat itu, benar-benar terjadi.

Bukan saja teriak pencuri, namun Harun Atabuna juga mengatakan rumah warga seperti kandang kambing. Sehingga memantik emosinya untuk membalas teriakan Harun Atabuna.

Osias Atamoi katakan bahwa rumah miliknya memang tidak seperti rumah Harun Atabuna, sebab ada perbedaan kelas sosial yakni Harun Atabuna sebagai Bendahara desa dan Hagar Atama istrinya sebagai guru P3K.

“Waktu itu, Harun ada kerja di tangga depan dia pu rumah situ, lalu dia teriak bilang kamu Rayon III tukang pencuri, tidak bisa sama dengan saya, kamu (Osias Atamoi) punya rumah itu macam kandang kambing, sehingga saya balas bilang, iya kami ini masyarakat kecil tidak bisa sama kamu suami istri kan pejabat jadi bisa bangun rumah beton,”Ucap Osias Atamoi menceritakan situasi saat itu kepada media ini.

Motif dari tindakan yang diduga mencemarkan nama baik ini sesuai informasi yang diperoleh tim media, para terduga yakni Harun Atabuna dan Istrinya kehilangan seekor ayam, namun belum dipastikan siapa pencurinya sebab, sampai berita ini diturunkan oknum terduga pelaku yang di hubungi tim media tidak mau memberi keterangan pers.

“Trima Kasih adik.
Untuk sementara kk belum bisa kasih keterangan,”tulis Hagar Atama melalui pesan (Facebook) saat merespon konfirmasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *