SUARANTT.COM,-Himpunan Mahasiswa Amarasi (HIMARASI) Kupang resmi melantik pengurus periode 2026–2027. Momentum tersebut tidak hanya menjadi agenda pergantian kepengurusan, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa Amarasi untuk memperkuat peran sebagai kelompok intelektual sekaligus kekuatan moral dalam mengawal pembangunan daerah.
Pelantikan berlangsung di Aula Sulamanda, Desa Mata Air, Kabupaten Kupang, Jumat (7/8/2026). Hadir dalam kegiatan tersebut Anggota DPRD Kabupaten Kupang dari Partai Perindo, Salomniel Arnius Buraen atau yang akrab disapa Ary Buraen, yang juga merupakan Dewan Penasihat HIMARASI Kupang.
Usai prosesi pelantikan, Ary Buraen mengingatkan mahasiswa agar tidak berhenti pada aktivitas organisasi dan seremoni. Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab sosial yang lebih besar, terutama dalam membaca berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
Ia menegaskan, mahasiswa sebagai kaum intelektual muda harus mampu menjadi tulang punggung perubahan, baik bagi bangsa maupun daerah.
“Mahasiswa jangan hanya berhenti pada kegiatan organisasi dan seremoni. Harus ada tindakan nyata sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran mahasiswa harus memberikan dampak bagi diri sendiri, kampus, kampung halaman, dan terutama masyarakat,” tegas Ary.
Mahasiswa Diminta Perkuat Daya Kritis
Ary menilai kondisi penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Kupang saat ini membutuhkan perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa dan kelompok pemuda.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa Amarasi untuk meningkatkan kapasitas intelektual sekaligus daya kritis dalam membaca dan mengawal setiap kebijakan pemerintah daerah.
Menurutnya, mahasiswa tidak harus selalu berhadapan dengan pemerintah, tetapi harus mampu menjalankan fungsi kontrol secara objektif. Kebijakan yang berpihak kepada masyarakat perlu didukung, sementara kebijakan yang berpotensi merugikan kepentingan publik harus dikritisi berdasarkan data, kajian, dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Mahasiswa harus berani mengawal kebijakan pemerintah. Tetapi kritik itu harus dibangun dengan data, kajian dan argumentasi. Jangan hanya bersuara, tetapi harus mampu menawarkan solusi,” katanya.
Ary menegaskan, gerakan mahasiswa yang ideal bukanlah gerakan yang dibangun atas kepentingan politik praktis maupun kepentingan kelompok tertentu. Sebaliknya, gerakan mahasiswa harus bertumpu pada kepentingan masyarakat luas.
Gerakan Moral Jangan Hanya Menjadi Slogan
Lebih jauh, Ary mendorong HIMARASI menjadi wadah kaderisasi yang melahirkan mahasiswa dengan kepekaan sosial dan keberanian moral.
Menurut dia, ketika institusi politik dan ruang-ruang representasi rakyat mengalami berbagai tantangan, mahasiswa justru harus hadir sebagai kekuatan moral yang independen.
“Kalau pilihan mahasiswa adalah membangun gerakan moral, saya sangat mendukung. Mahasiswa harus serius membangun kekuatan moral agar mampu ikut menentukan arah kebijakan yang menyangkut nasib rakyat,” ujarnya.
Ia berpandangan, gerakan moral mahasiswa tidak berarti mengambil alih fungsi lembaga negara. Namun, mahasiswa harus mampu menjadi pengingat ketika kekuasaan mulai menjauh dari kepentingan rakyat.
Mahasiswa, lanjutnya, harus berani berdiri di tengah masyarakat, mendengar persoalan mereka, melakukan kajian, menyampaikan kritik, serta mengawal kebijakan publik hingga memberikan dampak nyata.
“Jangan sampai mahasiswa hanya ramai ketika ada momentum, tetapi setelah itu tidak ada gerakan. Gerakan mahasiswa harus konsisten, terorganisir dan memiliki agenda yang jelas untuk kepentingan rakyat,” tegasnya.
Kritik dari Dalam Sistem
Sikap Ary Buraen menarik perhatian karena kritik tersebut disampaikan oleh seorang tokoh muda yang saat ini berada di dalam sistem politik sebagai anggota DPRD Kabupaten Kupang.
Sebagai politisi muda sekaligus putra asli Amarasi, Ary menunjukkan bahwa berada di dalam lembaga politik tidak harus membuat seorang wakil rakyat kehilangan sikap kritis dan idealismenya.
Posisinya sebagai anggota DPRD justru dapat menjadi ruang untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui jalur kelembagaan, sementara mahasiswa memiliki ruang yang berbeda untuk melakukan kontrol sosial dan moral dari luar sistem.
Dalam konteks tersebut, Ary mendorong mahasiswa agar tidak kehilangan independensi. Ia menilai kekuatan mahasiswa justru terletak pada keberanian untuk menyampaikan kebenaran dan kepentingan masyarakat tanpa terikat kepentingan kekuasaan.
Ia juga menyoroti kondisi politik yang menurutnya semakin menghadapi tantangan dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.
Menurut Ary, ketika kepentingan politik praktis dan kepentingan elite semakin kuat memengaruhi ruang pengambilan keputusan, dibutuhkan kekuatan kontrol dari masyarakat sipil, termasuk mahasiswa.
“DPRD maupun DPR RI saat ini menghadapi berbagai keterikatan dengan kepentingan partai politik, sehingga perjuangan untuk kepentingan rakyat tidak selalu berjalan maksimal. Karena itu, mahasiswa harus mengambil peran sebagai kekuatan moral yang kritis dan independen,” ujarnya.
HIMARASI Didorong Hadir di Tengah Persoalan Rakyat
Ary berharap kepengurusan HIMARASI periode 2026–2027 tidak hanya menjadikan organisasi sebagai ruang berkumpul mahasiswa Amarasi, tetapi berkembang menjadi wadah kaderisasi, diskusi, advokasi dan pengabdian masyarakat.
Ia mendorong mahasiswa untuk menjadikan persoalan nyata di Amarasi sebagai bahan kajian dan gerakan. Mulai dari persoalan pendidikan, ekonomi masyarakat, infrastruktur, pelayanan publik, pertanian, hingga berbagai kebijakan pembangunan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.
“Mahasiswa Amarasi harus pulang melihat kampung halamannya. Jangan hanya menjadi mahasiswa di kota, tetapi tidak tahu persoalan masyarakat di kampung sendiri. Kalau ada persoalan, kaji, bicarakan dan perjuangkan dengan cara-cara yang bermartabat,” pesan Ary.
Ia menambahkan, organisasi mahasiswa akan kehilangan makna apabila hanya aktif dalam kegiatan internal, tetapi tidak mampu memberikan kontribusi terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.
Karena itu, ia berharap HIMARASI mampu melahirkan kader-kader muda Amarasi yang memiliki kapasitas intelektual, keberanian moral, integritas dan keberpihakan kepada masyarakat kecil.
Pelantikan pengurus HIMARASI periode 2026–2027 pun diharapkan menjadi titik awal bagi lahirnya gerakan mahasiswa Amarasi yang lebih kritis, independen dan konsisten dalam mengawal kepentingan rakyat.
Bagi Ary Buraen, mahasiswa bukan sekadar generasi penerus, tetapi merupakan kekuatan moral yang dapat menjadi penyeimbang kekuasaan ketika kepentingan rakyat mulai terpinggirkan.
