SUARANTT.COM-Kupang 15 Februari 2026,Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nusa Cendana (Undana), Agnesia Boling Selly, menyampaikan pernyataan sikap tegas terkait kondisi infrastruktur di Amfoang, Kabupaten Kupang, yang kembali terputus akibat banjir dan kerusakan jalan yang berulang setiap musim hujan.
Dalam keterangannya kepada media, Agnesia menilai situasi yang terus berulang tersebut bukan lagi sekadar dampak bencana alam, melainkan persoalan serius dalam prioritas pembangunan.
“Setiap tahun kita menyaksikan pola yang sama. Hujan turun, jalan terputus, masyarakat terisolasi. Ini bukan kejadian luar biasa lagi, ini sudah menjadi rutinitas yang menyakitkan,” tegasnya.
Ia menyoroti berbagai video yang beredar di media sosial yang memperlihatkan bus penumpang, pick up bermuatan hasil kebun, serta sepeda motor nekat melintasi jalan berlumpur dan arus deras akibat jembatan yang terputus total.
“Itu bukan adegan film. Itu kenyataan hidup masyarakat Amfoang. Setiap kendaraan yang melintas membawa nyawa. Satu kesalahan kecil bisa berujung tragedi,” ujarnya.
Menurut Agnesia, persoalan jalan di Amfoang tidak bisa lagi dipandang sebagai isu teknis semata. Ketika akses terputus, dampaknya merambat pada pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat kecil.
Dalam pernyataan resminya, BEM Universitas Nusa Cendana menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Kupang telah gagal menjadikan Amfoang sebagai prioritas pembangunan strategis. Pemerintah Provinsi NTT juga dinilai belum menunjukkan intervensi struktural yang serius untuk wilayah yang berulang kali terisolasi. Bahkan secara lebih luas, negara dianggap belum sepenuhnya hadir di titik paling rapuh dari wilayahnya.
“Jika titik yang sama terus terputus setiap tahun, maka ini bukan lagi semata persoalan cuaca ekstrem. Ini adalah persoalan keberpihakan dan keberanian mengambil keputusan,” kata Agnesia.
BEM Undana mendesak Pemerintah Kabupaten Kupang untuk segera menetapkan pembangunan jembatan permanen dan penguatan badan jalan Amfoang sebagai prioritas utama. Pemerintah Provinsi NTT juga diminta melakukan intervensi kebijakan dan dukungan anggaran berbasis mitigasi bencana secara terukur dan transparan.
Selain itu, pemerintah pusat diminta untuk turun tangan dan memastikan Amfoang masuk dalam skema percepatan pembangunan infrastruktur wilayah rawan dan terisolasi.
Agnesia menambahkan bahwa pembangunan sejatinya adalah soal pilihan moral. Dalam keterbatasan anggaran, pemerintah harus berani menentukan prioritas yang menyelamatkan kehidupan rakyat.
“Rakyat tidak hidup dari seremoni. Rakyat hidup dari akses. Jalan yang layak bukan kemewahan, tetapi kebutuhan dasar,” pungkasnya.
BEM Undana memastikan akan terus mengawal isu ini sebagai bentuk tanggung jawab moral dan intelektual mahasiswa terhadap masyarakat NTT. tutup Agnesia Boling Selly.













