SUARANTT.COM,- Kasus dugaan pemukulan yang terjadi di lingkungan SMK Kristen Oinlasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan, kini resmi dilaporkan ke pihak kepolisian.
Laporan tersebut diajukan oleh Yundri Liven Liunesi, kakak dari siswa yang sebelumnya datang ke sekolah untuk meminta klarifikasi terkait status pendidikan adiknya.
Berdasarkan dokumen Surat Tanda Terima Laporan Polisi (STTLP) yang dikeluarkan oleh Polsek Kie, Polres Timor Tengah Selatan, laporan tersebut telah diterima secara resmi oleh pihak kepolisian.
Dalam dokumen tersebut disebutkan bahwa laporan berkaitan dengan dugaan tindak pidana penganiayaan yang terjadi di lingkungan sekolah.
Peristiwa yang dilaporkan disebut terjadi pada Selasa, 10 Maret 2026 sekitar pukul 11.50 WITA di area SMK Kristen Oinlasi, Desa Oinlasi, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Laporan tersebut tercatat dengan nomor LP/B/15/III/2026/SPKT/Polsek Kie/Polres TTS/Polda NTT.
Korban, Yundri Liven Liunesi, sebelumnya datang ke sekolah bersama ibunya untuk meminta klarifikasi mengenai status pendidikan adiknya yang dinyatakan tidak dapat mengikuti ujian karena namanya tidak tercatat dalam sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
Namun menurut pengakuan korban, dalam proses klarifikasi tersebut dirinya justru mengalami tindakan pemukulan oleh seorang oknum guru.
“Saya datang hanya untuk meminta penjelasan mengenai status pendidikan adik saya. Tetapi dalam situasi itu saya justru dipukul oleh oknum guru,” ungkap Yundri Liven Liunesi.
Korban juga menyampaikan harapannya agar laporan yang telah disampaikan dapat diproses secara adil.
“Saya berharap proses hukum bisa berjalan dengan baik dan tidak ada intervensi dari pihak manapun,” tambahnya.
Dengan adanya laporan resmi ini, penanganan kasus tersebut kini berada di tangan pihak kepolisian. Publik berharap proses hukum dapat berjalan secara transparan sehingga peristiwa yang terjadi dapat memperoleh kejelasan dan penanganan yang semestinya.
Peristiwa ini sebelumnya juga menjadi perhatian publik setelah muncul rekaman kamera pengawas (CCTV) dari dalam kantor sekolah yang memperlihatkan kronologi kejadian ketika korban datang bersama ibunya untuk meminta klarifikasi kepada pihak sekolah.

