SUARANTT.COM,-Di tengah berbagai persoalan yang sedang diperjuangkan oleh mahasiswa dan masyarakat melalui aksi demonstrasi, ada satu hal yang kiranya patut kita renungkan bersama: bagaimana jika perjuangan itu kita jeda sejenak, bukan karena kita menyerah, tetapi karena ada saudara-saudara kita yang sedang membutuhkan uluran tangan?
NTT sedang menghadapi bencana. Dalam situasi seperti ini, mungkin sudah waktunya kita mengesampingkan sejenak perbedaan, kepentingan, dan perdebatan politik untuk bergandengan tangan membantu masyarakat yang sedang mengalami kesulitan.
Kepada saudara-saudaraku mahasiswa, para aktivis, dan seluruh elemen masyarakat yang sedang menyampaikan aspirasi melalui demonstrasi: bolehkah aksi itu kita tunda sejenak?
Bukan karena suara mahasiswa tidak penting. Bukan pula karena kritik terhadap pemerintah harus dihentikan.
Justru sebaliknya, suara mahasiswa tetap penting dan hak menyampaikan pendapat tetap harus dihormati. Karena saya melihat Point Tuntutan sebelumnya juga ada soal penetapan Status Bencana Terima Kasih Untuk Itu.
Dalam negara hukum, kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, kebebasan tersebut juga berjalan bersama dengan tanggung jawab untuk menghormati hak orang lain, ketertiban umum, serta keselamatan masyarakat.
Karena itu, menunda aksi untuk sementara waktu dalam keadaan bencana bukan berarti kehilangan keberanian untuk bersuara. Bisa jadi, itu adalah bentuk keberanian lain: keberanian untuk mendahulukan kemanusiaan.
Hari ini mungkin kita berbeda pandangan mengenai kebijakan pemerintah.
Besok kita mungkin kembali turun ke jalan untuk menyampaikan tuntutan.
Tetapi hari ini, ketika saudara-saudara kita sedang kehilangan rumah, kesulitan mendapatkan makanan, membutuhkan tempat berlindung, atau bahkan kehilangan orang yang mereka cintai, bukankah kita bisa berdiri di sisi yang sama?
Dari sisi kemanusiaan, bencana tidak mengenal kelompok politik, organisasi, almamater, agama, maupun golongan. Mereka yang membutuhkan pertolongan tidak bertanya siapa yang kita dukung. Mereka hanya membutuhkan tangan yang mau membantu.
Dari sisi agama pun, hampir semua ajaran mengajarkan nilai yang sama: menolong mereka yang sedang berada dalam kesulitan adalah bagian dari kemuliaan manusia.
Dalam semangat kasih, persaudaraan, dan kepedulian terhadap sesama, kiranya penderitaan saudara-saudara kita di NTT dapat menjadi alasan bagi kita untuk berhenti sejenak dari perbedaan dan kembali mengingat bahwa sebelum menjadi mahasiswa, aktivis, pejabat, pendukung pemerintah, ataupun pengkritik pemerintah, kita semua adalah manusia yang mempunyai kewajiban moral untuk menolong manusia lainnya.
Maka, izinkan saya menyampaikan sebuah ajakan sederhana:
Mari kita tunda sejenak demonstrasi.
Mari kita turun ke jalan bukan untuk saling berhadapan, tetapi untuk bergandengan tangan.
Mari kita gunakan tenaga, jaringan, solidaritas, dan keberanian kita untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang menghadapi bencana.
Dan ketika keadaan telah kembali pulih, mari kita kembali duduk bersama, berdiskusi, mengkritik, menyampaikan aspirasi, dan memperjuangkan perubahan dengan cara-cara yang damai dan bermartabat.
Karena perjuangan yang besar bukan hanya tentang keberanian untuk menyuarakan kebenaran.
Perjuangan yang besar juga tentang kemampuan untuk mengetahui kapan harus berhenti sejenak demi menyelamatkan sesama.
NTT sedang membutuhkan kita.
Bukan hanya suara kita.
Tetapi juga tangan kita.
Tenaga kita.
Kepedulian kita.
Dan kemanusiaan kita.
Mari sejenak bergandeng tangan.
Hari ini kita bantu mereka yang membutuhkan.
Besok kita lanjutkan perjuangan dengan hati yang lebih besar.
