Keluhuran Menyusuh Ayah Dalam Cerpen Djenar Maesa Ayu Sebagai Bentuk Pencarian Kasih

Esay

Samuel Piedro Nahak Manewain

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

SUARANTT.COM,-Sastra sering kali bekerja dengan cara yang tidak nyaman. Ia tidak selalu menyenangkan pembacanya, bahkan terkadang sengaja memancing rasa muak, marah, atau gelisah. Namun justru melalui kegelisahan itulah sastra membuka ruang untuk memahami kenyataan manusia yang lebih dalam. Cerpen dengan judul “Menyusu Ayah” karya Djenar Maesa Ayu merupakan salah satu contoh karya yang menghadirkan pengalaman membaca semacam itu.

Cerpen “Menyusuh Ayah” dari Djenar Maesa Ayu ini kerap memancing kontroversi karena penggambaran antara seorang anak perempuan dan figur ayah yang melampaui batas-batas moral keluarga. Pemahaman tentang tubuh, kedekatan, dan peran keluarga membuat cerita ini terasa provokatif. Tidak sedikit yang menilainya sebagai karya yang terlalu vulgar atau sengaja mengejutkan.

Tetapi ketika berhenti pada rasa muak saja dalam membaca cerpen ini berarti menutup kemungkinan untuk memahami lapisan yang lebih dalam dari cerpen ini. Sebab di balik kontroversinya, cerpen “Menyusu Ayah” justru menyimpan refleksi yang dalam tentang kesepian dan kehidupan yang begitu pelik seorang anak yang tidak mendapatkan peran orang tua sejak dalam kandungan, serta bagaimana tubuh menjadi ruang untuk menjalin kasih sayang dari bentuk kasih yang paling hina.

Awal Kontroversi

Cerpen “Menyusu Ayah” disampaikan melalui sudut pandang Nayla, seorang perempuan yang mencoba mengingat masa kecilnya. Ingatan itu tidak hadir secara biasa. Ia muncul melalui pengalaman tubuh melalui sensasi, sentuhan, dan kedekatan yang bagi pembaca dewasa terasa problematis.

Di dalam cerita, figur ayah tampil sebagai sosok yang keras, penuh kemarahan, dan menyimpan kebencian terhadap ibu Nayla yang telah meninggal. Ia adalah figur otoritas yang tidak hanya mengatur kehidupan anaknya, tetapi juga membentuk cara Nayla memahami tubuh dan dunia.

Kontroversi muncul karena kedekatan antara ayah dan anak dalam cerpen ini tidak seperti anak gadis pada umunya, seorang ayah yang harus mengajarkan anaknya tentang martabat tubuh beruba pemahaman menjadi suatu pengajaran tentang, pemahaman payudara bukan untuk menyusu tetapi untuk dinikmati lelaki, jelas melanggar moral keluarga. Namun dari sudut pandang Nayla kecil, pengalaman itu tidak selalu dimaknai sebagai pelecehan. Ia melihatnya sebagai bentuk perhatian yang sangat ia rindukan karena dari hal seperti ini ia mendapatkan perhatian bahkan hingga ia berpaling dari teman seumuranya ke teman-teman ayah.

Keluhuran seorang anak perempuan yang tumbuh tanpa peran orang tua

Di balik gambaran yang membuat pembaca tidak nyaman, terdapat sesuatu yang sangat manusiawi yaitu kerinduan akan kasih sayang. Nayla adalah anak yang tumbuh dalam kesepian dan hilangnya sosok peran ayah. Ibunya meninggal saat melahirkan, sementara ayahnya tidak mengakui sosok Nayla sebagai anaknya karena dipenuhi kecurigaan dan kemarahan.

Dalam kondisi seperti itu, Nayla berusaha memahami dunia dengan cara pandanya sendiri. Ia mencoba membangun makna tentang cinta, tentang tubuhnya sendiri, dan tentang relasinya dengan ayah.

Yang menarik, Nayla tidak digambarkan sebagai tokoh yang sepenuhnya rapuh. Ia justru menunjukkan daya tahan yang kuat. Ia menolak menjadi perempuan yang dianggap lemah. Hal tersebut bisa dilihat dalam kutipan pada cerpen tersebut yakni “ nama saya Naila, saya perempuan tapi saya tidal lebih lemah dari laki-laki, saya memotong rambut saya pendek, saya mengenakan celana pendek atau celana panjang, saya bermain kelereng dan mobil-mobilan, saya memanjat pohon dan berkelahi saya kencing berdiri, saya melakukan semua hal yang dilakukan laki-laki, namun saya tidak terlalu peduli pada standar kecantikan perempuan.

Sikap ini dapat dimaknai sebagai bentuk keterlantaran seorang anak gadis kemudian anak gadis tersebut beradaptasi dengan lingkungan hingga muncul rasa perlawanan bahwa saya kuat. Sosok Nayla dalam cerpen “menyusuh ayah” berusaha mengambil kendali atas tubuh dan identitasnya sendiri. Keluhuran pada cerpen ini, bagai mana seorang anak perempuan yang tumbuh tanpa peran orang tua, teman bahkan keluarga, kemudian anak tersebut memaknai sendiri dari kejadian-kejadian dalam hidupnya entah itu hal buruk atau hal baik yang bahkan ia juga terkadang merasa bingung. Tak hanya itu keluhuran juga terselip pada keberanian cerita ini menyingkap luka yang sering disembunyikan dalam kehidupan keluarga.

Tubuh Sebagai Objek Bahasa

Salah satu ciri penting karya-karya Djenar Maesa Ayu adalah penggunaan tubuh sebagai medium naratif. Tubuh bukan hanya bagian biologis, tetapi ruang tempat berbagai pengalaman emosional disimpan. Dalam cerpen “Menyusu Ayah”, tubuh Nayla menjadi tempat berbagai konflik berlangsung. Ia menjadi medan pertemuan antara kebutuhan akan kasih sayang, ketimpangan kekuasaan, dan ingatan masa kecil yang begitu amburaduk, serta pelampiasan hasrat sebagai bentuk cinta

Terdapat perspektif menurut pemahaman saya, yang dimana Nayla sebagai sosok anak perempuan yang tidak mengisap punting payudara ibu, jika Ia mengisap punting payudara ibu Ia tumbuh sebagai anak perempuan yang tidak terlantar, menjaga norma-norma tubunya, sebaliknya Nayla bayi yang mengisap penis ayah, penis ayah disini bisa di maknai sebagai seorang anak yang hidup terlantar di lihat lagi karena Ayah Nayla mengakui Naylah adalah anak hasil perselingkuhan. pemaknaan menyusu juga bisa dilihat sebagai bentuk haus rasa kasi sayang karena pada saat Ia menyusu Ia mendapatkan perlakuan layaknya ibu dan ayah pada bayi kesayanganya. Kini Nayla menyusu dari teman-teman ayah, karena ayah Nayla tidak mau menyusu lagi.

Jembatan Pada Kehidupan Sosial

Meskipun tampak begitu vulgar, cerpen ini sebenarnya memiliki hubungan dengan kenyataan sosial. Banyak kasus kekerasan dan berbagai intimidasi dalam keluarga terjadi dalam ruang privat yang sulit terlihat oleh masyarakat. Korban sering kali tidak memiliki bahasa untuk menjelaskan pengalaman mereka.

Dalam situasi seperti itu, sastra dapat menjadi medium yang penting. Ia memungkinkan pengalaman-pengalaman yang sulit diungkapkan menemukan bentuk naratifnya.

Cerpen “Menyusu Ayah” dapat dibaca sebagai metafora tentang bagaimana kekuasaan dalam keluarga dapat membentuk cara seorang anak memahami tubuh dan cinta. Ia juga mengingatkan bahwa institusi keluarga yang sering dianggap sebagai rumah ternyaman, ternyata dapat menyimpan luka yang begitu dalam. Dengan menghadirkan cerita yang provokatif, Djenar maesa ayu memaksa pembaca untuk menatap sisi yang seringkali tidak terlihat dari batin manusia.

Dari kegelisahan yang membuat kita mempertanyakan

Tidak semua karya sastra bertujuan membuat pembaca merasa nyaman. Ada karya yang justru sengaja memancing kemarahan agar pembaca mau berpikir lebih jauh tentang realitas yang dihadapi manusia. cerpen “Menyusu Ayah” termasuk dalam jenis karya semacam itu. Ia tidak menawarkan moral serupa, juga tidak memberikan solusi yang mudah. Sebaliknya, cerpen ini meninggalkan kegelisahan.

Kita marah pada figur ayah dalam cerita tersebut. Kita merasa kasihan pada Nayla. Kita juga mungkin merasa tidak berdaya karena tidak ada jalan keluar yang jelas bagi tokoh tersebut. Namun kegelisahan itulah yang membuat cerpen ini penting. Ia memaksa pembaca agar mempertanyakan kembali bagaimana kita memahami keluarga, kekuasaan, dan kasih sayang.

Penutup

Cerpen “Menyusu Ayah” Djenar Maesa Ayu memang bukan bacaan yang nyaman. Ia menimbulkan rasa muak dan kemarahan karena menggambarkan relasi yang melanggar moral keluarga. Namun di balik kontroversi tersebut terselip sebua refleksi tentang kesepian seorang anak yang benar-benar tidak mengenal bahkan merasakan kasi sayang, benar-benar berjuang sendiri sejak dari dalam rahim ibu, Ia tumbuh dengan kehidupan yang begitu pahit tanpa mengenal sosok Ibu, karena ibunya meninggal saat melahirkan sosok Nayla yang di ceritakan pada cerpen tersebut dan Nayla begitu haus akan kasi sayang seorang ayah layaknya anak perempuan pada umumnya, dirangkul, dinasehati bahkan dibelikan jajanan walaupun tak begitu mahal. Mata ayah dalam cerpen ini di gambarkan sebagai mata yang masih hidup namun buta seperti orang yang suda mati.

Kekuatan pada cerpen “Menyusu Ayah” Djenar Maesa Ayu ini terletak pada keberaniannya mengungkap sisi gelap kehidupan manusia tanpa mencoba menyederhanakannya. Djenar Maesa Ayu lewat cerpenya berjudul “Menyusuh Ayah”, ingin mengajak kita agar melihat lebih jauh dibalik keluarga yang tampak biasa saja, bisa jadi tersembunyi luka yang sangat dalam.

Dalam pandangan saya, sastra yang berani menghadirkan ketidaknyamanan semacam ini justru memiliki nilai penting. Ia mengajak kita lebih peka terhadap realitas yang sering kali tak terjangkau dari sisi pandang manusia. Terkadang dibalik cerita yang kontroversial, tersimpan kejujuran yang lebih besar tentang kehidupan manusia.

keluhuran pada cerpen ini terletak pada makna di balik kalimat “nama saya Nayla saya perempuan tapi saya tidak lebi lemah dari laki-laki, karena saya tidak mengisap punting payudara ibu tetapi saya mengisap penis ayah, yang dimana kalimat “mengisap penis ayah” dapat dimaknai sebagai bentuk keterlantaran, haus kasi sayang , kesepiaan yang mendalam bahkan hidup seorang anak perempuan yang begitu rumit karena ayah tidak punya susu hanya payudara ibu yang punya tetapi ibu nayla meninggal saat sedang melahirkan.

Kalimat menyusu ayah merupakan bahasa sang anak yang merindukan kasi sayang dari bapak tetapi bapak tidak bekerja, kini Nayla berjuang sendiri sejak keluar dari rahim sang ibu. Hal ini kita bisa lihat pada kutipan cerpen “ketika detak jantung ibu melemah dan desah napasnya tinggal satu-satu saya menendang rahim ibu dan mendorong badan saya keluar keras-keras. Dokter kandungan memegang kedua kaki saya dan mengankat saya hingga jungkir balik”. Kutipan ini dapat dimaknai seorang anak yang tidak mengenal apa itu kasih sayang sejak lahir dan sangat merindukan peran Ibu karena bagi nayla mata ayah buta seperti orang mati.

Keberanian seorang sastrawan perempuan Djenar Maesa Ayu sangat begitu agung dan mulia, Ia membuka ruang bacaan yang vulgar untuk membuka percakapan yang bisa saja tidak terlihat dari ruang keluarga. Dengan keberanian seperti ini kesusastraan kini menemukan makna kemanusiaannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *