SARANTT.COM,-Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia PMKRI cabang kupang, tegaskan program pemerintah pusat makan bergizi gratis di hentikan, sebab fenomena yang terjadi pada Selasa, 22 Juli 2025 pukul 07.30 WITA, sejumlah besar siswa SMPN 8 Kota Kupang mengeluh sakit perut dan muntah-muntah setelah sebelumnya mengonsumsi makanan dari program MBG pada hari Senin, 21 Juli 2025.
Makanan yang dikonsumsi terdiri dari nasi, rendang tahu, sayur buncis, bunga pepaya, dan rendang daging sapi.
Beberapa siswa dan guru mencium aroma tidak sedap dan melihat kondisi sayur serta daging yang diduga sudah rusak (berbusa
Hingga siang hari, jumlah siswa yang dievakuasi mencapai 111 orang, dilarikan ke RS Siloam, RS SK Lerik, dan RS Mamami menggunakan ambulans dari Dinas Kesehatan dan BPBD. Pihak sekolah langsung mengumumkan libur darurat dan memulangkan seluruh siswa.
Menanggapi hal ini Aplonaris Mau (Naris Mau) selaku ketua Manataris Formatur tunggal Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia PMKRI Cabang Kupang minta MBG dihentikan sementara, sebab tidak steril dan tanpa kajian yang jelas.
Naris Mau mengatakan secara organisasi mengutuk keras kelalaian dalam pelaksanaan program MBG yang menyebabkan keracunan massal pada siswa, serta menuntut pertanggungjawaban secara hukum dari seluruh pihak terkait, termasuk penyedia makanan (Dapur Kelapa Lima), Dinas Pendidikan, dan Dinas Kesehatan.
“Selain kita menolak program MBG yang tidak efektif ini, lebih baik di hentikan. Kita juga secara organisasi mengutuk keras kelalaian dari penyedia makanan, kontraktor atau pemegang proyek MBG harus bertanggungjawab secara hukum,”ujar Naris.
Menurut naris program ini berpotensi membunuh masyarakat tanpa sadar, sebab tidak melalui suatu kajian ilmiah yang mendalam.
Naris juga mengatakan program Prabowo soal MBG, itu program politik, sebab dijanjikan saat berkampanye sehingga direalisasi secara paksa tanpa melihat situasi dan kondisi sosial.
Naris Mau juga tegaskan agar di evaluasi secara baik dan melihat apa yang menjadi prioritas dalam membangun dunia pendidikan.
“Masyarakat hari ini, tidak butuh makan gratis, itu program akal-akalan saat berkampanye, harusnya fokus ke pembangunan sumber daya Otak, bukan perut,” ujarnya tegas.

