SUARANTT.COM,-Rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIKUM) Prof. Dr. Yohanes Usfunan, S.H., M.H., resmi ditutup pada Kamis (3/9/2026).
Penutupan PKKMB menjadi penanda berakhirnya masa pengenalan lingkungan kampus bagi mahasiswa baru sekaligus menjadi awal bagi mereka untuk memasuki kehidupan akademik sebagai bagian dari keluarga besar STIKUM.
Dalam momentum tersebut, Wakil Rektor II STIKUM Prof. Dr. Yohanes Usfunan, S.H., M.H., Yudit Bana, S.H., M.H., memberikan pesan motivasi kepada mahasiswa baru agar tidak menjadikan PKKMB sekadar kegiatan seremonial, tetapi sebagai langkah awal untuk membangun karakter, semangat belajar, serta kesiapan menghadapi perjalanan panjang di dunia perguruan tinggi.
Yudit mengajak mahasiswa baru untuk menjalani proses pendidikan dengan sungguh-sungguh. Menurutnya, dunia perkuliahan bukan hanya tempat untuk mengejar gelar akademik, tetapi juga ruang untuk membentuk pola pikir, karakter, keberanian, dan kemampuan menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Ia juga mengingatkan mahasiswa bahwa mereka kini telah menjadi bagian dari STIKUM sehingga memiliki tanggung jawab untuk menjaga nama baik almamater melalui sikap, perilaku, prestasi, dan kontribusi positif di tengah masyarakat
“Sekali di udara tetap di udara, sekali jaya tetap jaya,” tegas Yudit Bana dalam sambutannya.
Ungkapan tersebut tidak sekadar menjadi slogan, tetapi ditekankan sebagai semangat bersama agar STIKUM terus berkembang dan tetap memberikan kontribusi bagi masyarakat, daerah, dan bangsa.
Mahasiswa Baru Diminta Tidak Takut Bermimpi
Yudit juga mendorong mahasiswa baru untuk berani memiliki cita-cita besar. Menurutnya, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkembang.
Mahasiswa justru harus memanfaatkan kesempatan belajar di perguruan tinggi untuk memperluas wawasan, membangun jaringan, mengasah kemampuan, serta mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja dan berbagai tantangan di masa depan.
Ia menekankan bahwa kualitas seorang mahasiswa tidak hanya dilihat dari nilai akademik, tetapi juga dari kemampuan membangun karakter dan menunjukkan tanggung jawab sebagai insan terdidik.
Karena itu, mahasiswa baru STIKUM diharapkan mampu menjalani setiap proses perkuliahan dengan disiplin, tekun, dan penuh tanggung jawab.
“Jangan takut untuk belajar. Jangan takut untuk bertanya dan jangan takut untuk bermimpi. Kampus ini adalah tempat kalian mempersiapkan diri untuk masa depan,” pesan Yudit kepada mahasiswa baru.
Direktur STIKUM: Sarjana Hukum Harus Mampu Menjawab Persoalan Masyarakat
Sementara itu, Direktur STIKUM Prof. Dr. Yohanes Usfunan, S.H., M.H., mengingatkan mahasiswa baru bahwa perjalanan menjadi seorang sarjana hukum membutuhkan proses panjang dan kesungguhan.
Menurut Yohanes, mahasiswa hukum tidak cukup hanya menguasai teori dan menghafal peraturan perundang-undangan. Lebih dari itu, seorang calon sarjana hukum harus mampu memahami persoalan, berpikir kritis, menganalisis masalah, serta mencari solusi berdasarkan ilmu hukum.
Ia berharap mahasiswa yang menempuh pendidikan di STIKUM nantinya tidak hanya memperoleh ijazah, tetapi juga memiliki kapasitas dan integritas untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Saya membangun kampus ini bukan berpikir untuk memperkaya diri. Yang saya inginkan adalah bagaimana membentuk anak-anak daerah menjadi sarjana hukum yang dapat memberi manfaat bagi daerah, nusa dan bangsa,” ungkap Yohanes.
Menurutnya, Nusa Tenggara Timur membutuhkan generasi muda yang memiliki kualitas, integritas, dan kemampuan untuk bersaing, bukan hanya di tingkat daerah tetapi juga secara nasional.
Yohanes juga menegaskan komitmennya untuk menjaga kualitas pendidikan di STIKUM.
Ia mengakui bahwa secara ukuran STIKUM mungkin belum sebesar sejumlah perguruan tinggi lainnya. Namun, menurutnya, besar kecilnya sebuah perguruan tinggi tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah mahasiswa atau luasnya institusi.
Hal yang lebih penting adalah kualitas pendidikan dan sumber daya manusia yang dihasilkan.
“Kita boleh kecil, kita boleh sedikit, tetapi yang harus diketahui, STIKUM punya dosen-dosen yang luar biasa. Ada Magister, Doktor, dan Profesor. Jadi anak-anak akan punya kualitas,” ujarnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi penyemangat bagi mahasiswa baru bahwa mereka tidak perlu minder dalam memulai perjalanan akademiknya.
Justru melalui proses pendidikan yang dijalani dengan sungguh-sungguh, mahasiswa diharapkan mampu membuktikan bahwa kualitas tidak selalu ditentukan oleh besar kecilnya sebuah institusi, tetapi oleh kesungguhan dalam belajar dan kemauan untuk terus berkembang.
PKKMB Berakhir, Perjalanan Akademik Dimulai

Dengan berakhirnya PKKMB, mahasiswa baru STIKUM kini memasuki fase baru sebagai mahasiswa.
Masa pengenalan telah selesai, tetapi perjalanan sesungguhnya baru dimulai. Ruang kuliah, buku, diskusi, tugas, organisasi, penelitian, hingga berbagai dinamika kehidupan kampus akan menjadi bagian dari proses mereka dalam membentuk diri sebagai calon sarjana hukum.
Karena itu, pesan yang disampaikan dalam penutupan PKKMB diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa baru untuk menjalani proses tersebut dengan penuh semangat.
Mereka tidak hanya diharapkan menjadi mahasiswa yang mengejar kelulusan, tetapi juga generasi yang memiliki keberanian, kompetensi, integritas, dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Pada akhirnya, semangat “sekali di udara tetap di udara, sekali jaya tetap jaya” menjadi ajakan bagi seluruh mahasiswa baru untuk tumbuh bersama almamater, menjaga nama baik STIKUM, serta membuktikan diri melalui prestasi dan kontribusi nyata.
PKKMB boleh berakhir, tetapi perjalanan mahasiswa STIKUM menuju masa depan baru saja dimulai.
