SUARANTT.COM,-Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) resmi menorehkan sejarah baru dengan lahirnya PMKRI Cabang Soe Santo Arnoldus Janssen pada 23 Juli 2026. Penetapan cabang baru tersebut berlangsung dalam forum Kongres PMKRI di Ruteng, Kabupaten Manggarai.
Pada hari pertama berdirinya, Ketua Presidium PMKRI Cabang Soe, Yulius Tamonob, menyampaikan pandangan umum yang menyoroti berbagai persoalan sosial di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Ia mengajak seluruh keluarga besar PMKRI, khususnya Presidium Pusat PMKRI, untuk memberikan perhatian serius terhadap kondisi masyarakat di daerah tersebut.
Salah satu isu yang menjadi perhatian utama adalah persoalan ekologi, terutama terkait Hutan Adat Pubabu-Besipae yang dinilai mengalami perampasan secara sistematis melalui praktik-praktik yang melibatkan kepentingan oligarki dan kekuasaan.
Menurut PMKRI Cabang Soe, hutan adat merupakan warisan yang harus dijaga demi keberlangsungan hidup masyarakat. Selain itu, Gunung Mutis dipandang sebagai jantung kehidupan ekologis dan peradaban bagi masyarakat di wilayah Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, Malaka, hingga Kabupaten Kupang.
Atas dasar itu, PMKRI Cabang Soe menegaskan penolakannya terhadap rencana perubahan status Cagar Alam Mutis menjadi taman nasional. Organisasi tersebut menilai kebijakan tersebut perlu dikaji secara mendalam agar tidak mengancam keberlanjutan kehidupan masyarakat adat dan kelestarian lingkungan.
Lahirnya PMKRI Cabang Soe juga menjadi tonggak penting setelah selama lima tahun berstatus sebagai kota jajakan di bawah pembinaan PMKRI Cabang Kupang Sanctus Fransiskus Xaverius. Dengan status cabang yang definitif, PMKRI Cabang Soe menyatakan siap berdiri mandiri dan memperjuangkan hak-hak masyarakat, khususnya kelompok-kelompok yang tertindas, sesuai dengan visi dan misi organisasi.
PMKRI Cabang Soe berdiri dengan kekuatan awal sebanyak 45 anggota. Cabang ini mengusung visi mewujudkan keadilan sosial, kemanusiaan, dan persaudaraan sejati melalui kaderisasi intelektual yang populis serta keberpihakan kepada kaum tertindas berdasarkan nilai-nilai dasar PMKRI.
Pembentukan PMKRI Cabang Soe mendapat dukungan dari 77 cabang PMKRI di seluruh Indonesia. Dukungan tersebut menjadi modal awal bagi cabang baru ini untuk berperan sebagai garda terdepan dalam memperjuangkan keadilan sosial, menjaga kelestarian lingkungan, serta mengawal kepentingan masyarakat Timor Tengah Selatan dan rakyat Indonesia pada umumnya.
Ke depan, PMKRI Cabang Soe diharapkan mampu menjaga dan mengamalkan nilai-nilai dasar organisasi, yakni Kristianitas, Fraternitas, dan Intelektualitas, sebagai landasan dalam setiap gerakan pengabdian kepada gereja, bangsa, dan masyarakat.
