SUARANTT.COM,-Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kabupaten Kupang menyalurkan bantuan 100 paket buku kepada siswa di wilayah pelosok sebagai bagian dari Program GAMKI Peduli Pendidikan NTT.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa (26/5/2026) di dua sekolah di Desa Poto, Kecamatan Fatuleu Barat, yakni SD GMIT Nauen dan SDN Bonatama.
Ketua DPC GAMKI Kabupaten Kupang, Deasy M. C. Balo-Foeh, memimpin langsung rombongan yang didampingi Sekretaris Edi Dikson Kaesmetan bersama sejumlah pengurus lainnya.
Sasar Sekolah Pelosok
Kunjungan diawali di SD GMIT Nauen. Rombongan disambut kepala sekolah, guru, komite, serta orang tua siswa. Di sekolah ini, GAMKI menyerahkan 58 paket buku kepada para siswa.
Selanjutnya, rombongan melanjutkan kunjungan ke SDN Bonatama. Di lokasi ini, sebanyak 42 paket buku dibagikan kepada siswa. Selain itu, masing-masing sekolah juga menerima bantuan satu bola voli sebagai dukungan terhadap aktivitas olahraga siswa.
Bantuan sebagai Simbol Kepedulian
Dalam sambutannya, Deasy menegaskan bahwa bantuan yang diberikan bukan semata dilihat dari nilai materi, melainkan sebagai bentuk kehadiran dan kepedulian GAMKI terhadap anak-anak di wilayah pedesaan.
Menurutnya, masih banyak siswa yang menghadapi keterbatasan sarana belajar. Karena itu, organisasi ingin memastikan bahwa kekurangan buku dan alat tulis tidak menjadi penghambat dalam proses pendidikan.
“Ini mungkin tidak besar secara materi, tetapi kami ingin hadir dan memastikan anak-anak tetap punya semangat belajar,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, program tersebut menjadi ruang bagi GAMKI untuk mendengar langsung persoalan yang dihadapi sekolah, baik oleh siswa maupun tenaga pendidik.
Sekolah Ungkap Masalah PIP dan Guru Honorer
Dalam dialog bersama pihak sekolah, sejumlah persoalan mencuat. Kepala SD GMIT Nauen bersama komite sekolah mengungkapkan bahwa masih banyak siswa belum menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP).
Kendala tersebut diduga berkaitan dengan persoalan administrasi dan verifikasi data kependudukan.
Selain itu, kondisi tenaga pendidik juga menjadi sorotan. Sebagian besar guru masih berstatus honorer komite dengan penghasilan yang dinilai belum layak.
Menanggapi hal itu, Deasy menyatakan bahwa GAMKI akan berupaya membantu sesuai kapasitas organisasi, termasuk menjembatani koordinasi dengan pihak terkait untuk persoalan PIP.
Sementara terkait guru non-ASN dan dukungan terhadap sekolah-sekolah GMIT, isu tersebut akan dibawa ke tingkat provinsi hingga nasional, termasuk dalam agenda Konferensi Nasional GAMKI pada Agustus 2026.
Motivasi untuk Anak-anak
Selain penyerahan bantuan, kegiatan juga diisi dengan sesi motivasi bagi para siswa. Para pengurus GAMKI mengajak anak-anak untuk berani memiliki cita-cita dan terus berjuang melalui pendidikan.
Mereka juga menekankan pentingnya disiplin belajar, menghormati guru dan orang tua, serta menjaga semangat dalam meraih masa depan.
Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Anak-anak dengan semangat menyampaikan cita-cita mereka, mulai dari menjadi guru hingga profesi lainnya.
Kegiatan ditutup dengan kebersamaan antara pengurus, siswa, dan guru melalui sesi bernyanyi bersama yang berlangsung penuh sukacita.

