Editorial: 79 Tahun PMKRI, Setia pada Jalan Sunyi Perjuangan

OLEH: MELIANUS ALOPADA

Angkatan 57 Perjuangan Tahun 2021

SUARANTT.COM,-Tujuh puluh sembilan tahun bukanlah rentang waktu yang pendek. Dalam hampir delapan dekade perjalanan itu, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Sanctus Thomas Aquinas telah menempatkan dirinya bukan sekadar sebagai organisasi kader, melainkan sebagai ruang pembentukan nurani tempat lahirnya generasi yang memilih berpihak, bukan netral; yang bergerak, bukan diam.

Sejak masa awal kemerdekaan, PMKRI tidak hadir sebagai pelengkap sejarah. Ia terlibat. Ia mengambil posisi. Di tengah dinamika bangsa yang terus berubah dari pergolakan politik, krisis sosial, hingga tantangan demokrasi hari ini PMKRI konsisten memosisikan diri sebagai aktor, bukan penonton. Ini klaim yang kuat, tetapi sekaligus menuntut pembuktian yang tidak ringan.

Di usia ke-79, refleksi menjadi keharusan, bukan seremoni. Sebab, usia panjang sebuah organisasi sering kali menyimpan dua kemungkinan: kematangan atau justru kelelahan. Pertanyaannya, apakah PMKRI hari ini masih setajam dulu dalam membaca realitas? Ataukah ia mulai terjebak dalam romantisme sejarahnya sendiri?

Warisan tiga benang merah Kristianitas, Fraternitas, dan Intelektualitas kerap disebut sebagai fondasi gerakan. Namun, fondasi hanya berarti jika ia hidup dalam praksis, bukan berhenti sebagai jargon.

Kristianitas, misalnya, bukan sekadar identitas religius, melainkan komitmen etis. Ia diuji ketika keberpihakan pada kaum tertindas menuntut keberanian melawan arus kekuasaan, bahkan ketika itu tidak populer. Tanpa itu, Kristianitas mudah tergelincir menjadi simbol kosong.

Fraternitas, di sisi lain, sering dielu-elukan sebagai semangat persaudaraan. Tetapi, apakah ia sungguh melampaui sekat-sekat internal dan identitas kelompok? Atau justru berhenti pada solidaritas eksklusif yang nyaman namun terbatas? Fraternitas sejati menuntut keterbukaan bahkan kepada mereka yang berbeda pandangan.

Sementara itu, Intelektualitas adalah pisau analisis. Namun, pisau yang tumpul tidak akan pernah mampu membedah ketidakadilan. Di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi, kader PMKRI ditantang untuk tidak hanya kritis, tetapi juga jernih dan berbasis data. Tanpa itu, keberpihakan mudah berubah menjadi sekadar opini tanpa dasar.

Di titik ini, penting untuk jujur: apakah PMKRI masih menjadi ruang pembentukan intelektual yang hidup, atau perlahan bergeser menjadi arena simbolik yang kehilangan daya kritisnya? Skeptisisme ini bukan untuk meruntuhkan, melainkan untuk menjaga agar organisasi tidak terjebak dalam zona nyaman.

Sebab sejarah telah menunjukkan, organisasi mahasiswa hanya relevan sejauh ia mampu merespons zamannya. Tantangan hari ini berbeda dengan masa lalu ketimpangan ekonomi, krisis lingkungan, degradasi demokrasi, hingga marginalisasi kelompok rentan. Pertanyaannya bukan lagi apakah PMKRI punya sejarah besar, tetapi apakah ia masih punya keberanian untuk menulis sejarah baru.

Berdies Natalis ke-79 seharusnya menjadi momentum untuk menegaskan kembali arah: kembali ke akar, sekaligus berani melampauinya. Menjadi setia pada nilai, tetapi tidak kaku dalam metode. Menjadi kritis tanpa kehilangan kedalaman moral.

Karena pada akhirnya, ukuran sebuah perhimpunan bukan pada usia, melainkan pada dampaknya.

Selamat Berdies Natalis PMKRI Sanctus Thomas Aquinas ke-79.

Pro Ecclesia et Patria.

Religio Omnium Scientiarum Anima.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *