Melepas Jubah Putih, Memeluk Toga Hitam: Jejak Langkah Lodovikus Ignasius Lamury, S.H. Menemukan Panggilan Baru
Dari Pelayan Tuhan Menuju Pembela Keadilan
Melihat sosok Lodovikus Ignasius
Fernandes Lamury atau yang akrab kita sapa Vicky berdiri tegap dan mengucap sumpah di Pengadilan Tinggi NTT pada Selasa (21/04/2026) kemarin, rasanya seperti menyaksikan sebuah film dengan plot twist yang indah. Di usianya yang masih sangat muda, 26 tahun, ia resmi menyandang gelar Advokat.
Baru kemarin rasanya, tepatnya pada 2019, ia masih mengenakan jubah putih sebagai seorang frater, calon imam Keuskupan Larantuka. Takdir memang seringkali bekerja lewat cara-cara yang tak terduga, bahkan terkadang menyakitkan. Setelah menempuh pendidikan di Seminari Menengah San Dominggo Hokeng sejak 2014, lalu melanjutkan ke Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret dan berkuliah di STFK Ledalero, banyak orang termasuk mungkin dirinya sendiri yakin bahwa ia dipersiapkan untuk memegang cawan suci di depan altar
Namun, di tengah perjalanan itu, pintu biara tertutup. Sebuah peristiwa indisipliner membuatnya harus menanggalkan jubah putih yang telah bertahun-tahun melekat. Bagi seorang putra Lamaholot yang dibesarkan dalam tradisi religius yang kental, momen itu bukan sekadar kehilangan status, melainkan sebuah guncangan eksistensi. Seolah-olah kapal yang ia nahkodai karam sebelum mencapai dermaga penahbisan.
Namun, di sinilah keajaiban itu terjadi. Vicky tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam penyesalan. Ia membawa “jiwa” pastornya keluar dari tembok seminari. Ia sadar bahwa melayani Tuhan tidak selamanya harus di balik jubah; membela mereka yang terpinggirkan oleh hukum pun adalah sebuah bentuk liturgi kehidupan.
Meninggalkan sunyinya biara di Flores Timur, ia menyeberangi lautan menuju Kota Kupang. Arus hidup membawanya ke Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIKUM) Prof. Dr. Yohanes Usfunan. Di sana, ia mulai menukar kitab suci dengan kitab undang-undang. Ketekunannya luar biasa. Sambil merajut mimpi di tingkat magister Universitas Mahendradatta Bali, ia terus mengasah taring intelektualnya.
Ia bukan mahasiswa hukum biasa. Darah aktivisnya bergejolak. Tahun 2020, ia mendirikan Gerakan Mahasiswa Flobamora dan memimpinnya dengan tangan dingin. Sosoknya dikenal sebagai orator ulung yang mampu “memutus dan menyambung kata” menjadi kalimat puitis namun tajam menghujam telinga para pejabat yang tuli terhadap rakyat kecil. Puncaknya, ia mencatatkan sejarah sebagai salah satu mahasiswa hukum pertama di NTT yang berani melakukan uji materiil di Mahkamah Konstitusi.
Kini, tanggal 21 April 2026 telah menjadi jawaban atas misteri panggilannya. Jubah putih yang lepas itu ternyata digantikan oleh toga hitam yang tak kalah mulia. Meski sudah menjadi praktisi hukum, tindak-tanduknya tetap mencerminkan didikan seminari-santun, reflektif, namun tak kenal kompromi terhadap ketidakadilan.
Perjalanan Vicky membuktikan satu hal: Tuhan tidak mematahkan impiannya, Dia hanya mengubah “altar”-nya. Dari altar gereja yang suci, kini menuju altar pengadilan yang penuh tantangan. Selamat berjuang, sang Pembela Keadilan!

