Pemuda Oebelo Minta APH Selidiki Sumur BOR Desa Oebelo Tahun Anggaran 2024, yang Diduga Tidak Ada Asas Manfaat

SUARANTT.COM, -Salah satu Pemuda Desa Oebelo, sekaligus mahasiswa hukum yakni Dony Kainara meminta aparat penegak hukum agar segera melakukan penyelidikan atau pemantauan terhadap dugaan pembangunan proyek sumur BOR yang tidak ada manfaat bagi warga di desa Oebelo,kecamatan kupang tengah, kabupaten kupang.

‎Dony sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa tindak pidana korupsi itu tidak harus miliaran rupiah, namun seribu rupiah pun itu merupakan keringat air mata dan darah dari pajak rakyat. Sehingga tidak boleh digunakan uang rakyat sewenang-wenang apalagi sampai tidak ada manfaat.

‎Lebih jauh Dony mengatakan, proyek sumur BOR dengan anggaran 127 juta dari sumber dana desa tahun anggaran 2024 harus diusut oleh APH, sebab proses pengerjaan tidak melalui perencanaan teknis yang matang sehingga tidak berdampak bagi masyarakat.

‎”Ini masalah serius, dana desa yang dikelola tidak berdampak bagi masyarakat APH harus selidiki setelah membaca berita ini, “ujarnya.

‎Selain APH Dony kainara juga meminta pemerintah daerah kabupaten kupang melalui inspektorat daerah untuk meninjau kembali laporan, pertanggungjawaban proyek pembangunan desa Oebelo di tahun anggaran 2024, khususnya pada pembangunan sumur BOR dan pipanisasi,  sebab ada dugaan atau kecurigaan warga terkait dengan laporan-laporan diatas kertas karena pada kenyataannya fakta dilapangan memprihatinkan.

‎”Wajar kita curiga bahwa pemerintah desa sodorkan data palsu dalam LPJ kepada pemerintah daerah terkususnya dinas teknis yang membidangi wilayah desa, karena fakta di lapangan banyak persoalan, tapi tidak perna ada temuan, “tutur Dony.

‎Dony Kainara menegaskan jika APH tidak bergerak, dan inspektorat tidak menyampaikan hasil audit internal dalam administrasi proyek pembangunan didesa maka hal ini akan menjadi Bom waktu dan akan ada gerakan serta riak di wilayah desa Oebelo.

‎”Kita percaya dengan APH dan Inspektorat tapi kalau mereka tidak bergerak kita tunggu waktu saja untuk ribut,”tegasnya.

‎Dony berharap dengan adanya pemberitaan media, APH dan inspektorat segera menyadari bahwa betapa pentingnya kehidupan rakyat. Dan betapa pentingnya pelayanan pemerinta kepada rakyat. Serta betapa pentingnya kepercayaan publik terhadap lembaga negara.

‎Sebelumnya diberitakan bahwa warga desa Oebelo, beberkan fakta dugaan proyek sumur BOR tahun anggaran 2024 dengan anggaran sebesar 127 juta yang diduga belum memberi dampak bagi warga desa Oebelo.

‎Dalam investigasi tim media suara ntt, pada kamis 19 Maret 2026, terpantau sumur BOR dengan anggaran fantastik itu belum dimanfaatkan oleh masyarakat sejak proyek tersebut selesai dikerjakan pada tahun 2024 lalu.

‎Menurut informasi, kepala desa Marthen Halla,SH baru rencana memperbaiki kembali di bulan panas atau pertengahan bulan 2026. Namun karena ada laporan dan menjadi perbincangan warga di berbagai grup whatsApp warga desa Oebelo sehingga kepala desa mendatangi lokasi proyek sumur BOR dan bersama warga yang mengelola untuk mencari jalan keluar.

‎Simon Mage warga Dusun II Desa Oebelo kecamatan kupang tengah kabupaten kupang yang berada di lokasi sumur BOR sekaligus yang mengelola Sumur Bor tersebut mengatakan selama ini memang sumur BOR belum dimanfaatkan oleh semua masyarakat sejak selesai dikerjakan.

‎Simon Mage juga membeberkan, selama ini tidak diperhatikan namun setelah ada laporan warga kepala desa Oebelo mendatangi dirinya untuk bersama-sama melihat proyek sumur BOR tersebut dan berupaya memperbaiki.

‎Dirinya juga mengungkap bahwa ia mengeluarkan uang pribadi untuk membeli panel listrik sebesar 350 ribu, sebab panel listrik milik pemerintah desa sudah rusak tanpa diketahui penyebabnya sehingga ia lansung membeli panel baru namun hasilnya juga sama belum bisa digunakan untuk masyarakat karena kondisi air yang keluar belum normal.

‎”Panel ini b baru beli pake uang pribadi, 350 ribu karena yang pertama dari Desa punya ada rusak, tapi sama sa, “ujarnya.

‎Ia mengatakan setelah beli ganti panel listrik, ternyata bukan panel tersebut yang rusak tetapi karena terminal masih numpang dirumah warga sehingga terkendala di daya listrik hingga terjadi kebakaran pada terminal.

‎”Ternyata bukan panel yang rusak, terminal masih numpang di rumah (rumah warga) terminal tabakar jadi daya sonde (tidak) bisa angkat jadi beta pikir rusak,”benernya lagi.

‎Selain itu Ia juga mengungkap, proyek instalasi pipa untuk mendukung irigasi air ke remah warga juga belum selesai sebab baru 5 rumah yang dipasang keran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *