SUARANTT.COM-Ketua Solidaritas Pemuda Amfoang (SUFa), Simon Seffi, S.Pd., M.M., meragukan bahwa Pemerintah Kabupaten Kupang telah menjadikan perspektif berbasis risiko sebagai landasan utama dalam pengambilan kebijakan, khususnya menyangkut wilayah Amfoang yang rawan terisolasi saat musim hujan.
Pernyataan tersebut dikutip dari tulisannya yang dipublikasikan di media Suara Amfoang pada Jumat (13/02/2024) siang.
Dalam tulisannya, Seffi menilai masih minim kebijakan antisipatif berbasis risiko bencana yang tercermin dalam sejumlah dokumen pembangunan dan anggaran desa di wilayah Amfoang. Ia juga menyoroti sejumlah keputusan administratif yang dinilainya belum sepenuhnya mempertimbangkan kondisi geografis dan tantangan kebencanaan di Kabupaten Kupang.
Salah satu contoh yang disorot Seffi adalah surat yang dikeluarkan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Kupang, Mateldis Sanam, yang meminta PPPK paruh waktu hadir di lokasi terpusat pada Jumat (13/02/2026), sementara surat tersebut diterbitkan sehari sebelumnya. Dalam konteks wilayah seperti Amfoang yang aksesibilitasnya sulit bahkan terputus saat musim hujan, sorot Seffi, yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kupang melalui surat yang ditandatangani Sekda Mateldis itu dapat memjnculkan pertanyaan tentang sejauh mana pendekatan berbasis risiko telah menjadi dasar pertimbangan.
“Jika didiskusikan secara objektif dan kritis, mudah untuk menunjukkan bahwa kebijakan yang akomodatif terhadap perspektif risiko bencana oleh Pemerintah Kabupaten Kupang saat ini masih perlu diperkuat,” tulis Seffi.
Seffi menjelaskan, sebagian besar wilayah Amfoang setiap tahun menghadapi persoalan serius saat musim penghujan sebab puluhan sungai kering berubah menjadi arus banjir besar sehingga akses keluar-masuk wilayah kerap terputus berhari-hari. Tidak sedikit warga Amfoang, tulis Seffi, yang mempertaruhkan keselamatan saat menyeberangi banjir atau melintasi jalur alternatif yang berlumpur, licin, curam, dan berbahaya.
Dampaknya, jelas Seffi, ketika jalur transportasi terputus, harga kebutuhan pokok melonjak karena distribusi tersendat sementara di saaf bersamaan harga komoditas dan hasil ternak justru cenderung murah saat musim hujan, sehingga daya beli masyarakat melemah.
Seffi menggambarkan kondisi yang terjadi kerap memaksa orang tua meminjam uang berbunga tinggi untuk membiayai pendidikan anak, termasuk ibu hamil, bayi, dan pasien darurat pun menghadapi risiko besar karena sulitnya menjangkau fasilitas kesehatan yang berada di sekitar ibu kota kabupaten.
Menurut Seffi, kondisi geografis yang keras tersebut seharusnya tidak sekadar menjadi cerita rutin tahunan, tetapi menjadi realitas yang membentuk pola hidup warga Amfoang agar lebih tangguh dan antisipatif.
Karena itu, Seffi mendorong agar warga Amfoang membangun perspektif berbasis risiko sebagai bagian dari budaya hidup bersama alam. Perspektif berbasis risiko, jelas Seffi, berarti memahami potensi bahaya, menghitung kemungkinan dampaknya, serta merancang langkah pencegahan dan mitigasi sebelum keadaan darurat terjadi.
Jika musim hujan dapat diprediksi waktunya, maka kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan hingga pembiayaan darurat semestinya direncanakan jauh hari dan tercermin dalam desain kebijakan para pemangku kepentingan di tingkat Amfoang, mulai dari RT/RW, kepala dusun, kepala desa, camat, kepala sekolah hingga tokoh agama.
Sebagai contoh, Seffi menyebut pemerintah desa dapat menyiapkan pos anggaran rujukan kesehatan dengan memperhitungkan biaya tambahan seperti penggunaan tandu saat harus menyeberangi banjir. Seffi juga mengapresiasi langkah Pemerintah Desa Netemnanu Selatan di Kecamatan Amfoang Timur yang menurutnya telah melakukan inisiatif serupa dan patut menjadi contoh.
Selain itu, desa dapat mengalokasikan dana untuk membantu ibu hamil menyewa kamar kos di dekat fasilitas kesehatan menjelang persalinan. Skema pinjaman tanpa bunga bagi mahasiswa selama musim hujan juga dapat dirancang, dengan pengembalian setelah harga ternak dan komoditas kembali stabil. Koperasi desa maupun badan usaha milik desa, lanjutnya, perlu diperkuat agar mampu menyediakan bahan pokok sebelum musim hujan tiba.
Meski mengkritik kebijakan pemerintah daerah, Seffi mengingatkan bahwa menjadi warga Amfoang yang tangguh tidak berarti hanya menyalahkan pemerintah. Karena itu Seffi mengajak masyarakat membangun kesadaran, solidaritas, dan perencanaan matang berbasis risiko agar tidak menjadi korban ketika musim hujan datang.
Seffi berharap, jika perspektif berbasis risiko benar-benar dijadikan dasar dalam setiap kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan warga Amfoang, maka musim hujan tidak lagi sekadar menjadi ancaman, melainkan tantangan yang dihadapi dengan kesiapsiagaan dan kebersamaan.
