SUARANTT.COM-Setiap kali hujan turun di Amfoang, yang bergetar bukan hanya atap rumah warga. Yang bergetar adalah kecemasan. Sungai meluap, jalan terputus, akses lumpuh. Anak-anak tertahan di rumah. Orang sakit menunggu dengan cemas. Hasil kebun membusuk karena tak bisa dibawa ke pasar.
Dan yang paling menyedihkan, semua ini terjadi bukan untuk pertama kali. Dalam beberapa hari terakhir, kita menyaksikan sendiri melalui pantauan berita dan video yang beredar luas di media sosial, dikarenakan jembatan terputus total dan belum diperbaiki, mobilisasi masyarakat dialihkan melewati jalan poros tengah. Rekaman-rekaman itu menyayat hati dan mengguncang kesadaran. Bus penumpang perlahan menembus jalan berlumpur. Pick up bermuatan hasil kebun dan kebutuhan pokok mengalami nasib yang sama. Bahkan mobil pribadi dipaksa berjudi dengan keselamatan demi bisa sampai ke tujuan.
Itu bukan adegan film. Itu bukan simulasi bencana. Itu adalah kenyataan hidup masyarakat Amfoang.
Setiap kendaraan yang melintas di jalan itu membawa nyawa. Membawa anak-anak. Membawa orang tua. Membawa harapan keluarga di rumah. Satu kesalahan kecil saja bisa berubah menjadi tragedi.
Pertanyaannya sederhana namun mendasar: mengapa warga harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk melewati jalan yang seharusnya menjadi penghubung kehidupan?
Sebagai Ketua Cabang GMKI Kupang, saya menegaskan bahwa ini bukan lagi sekadar persoalan teknis infrastruktur. Ini adalah persoalan moral dan tanggung jawab kepemimpinan. Jika setiap musim hujan titik yang sama kembali terputus, maka kita tidak bisa lagi berlindung di balik alasan “cuaca ekstrem”. Yang ekstrem justru adalah ketidakseriusan kita membenahi persoalan yang sudah lama diketahui.
Amfoang tidak meminta kemewahan. Amfoang hanya meminta jalan yang tidak berubah menjadi ancaman maut setiap musim hujan. Amfoang hanya meminta jembatan permanen yang berdiri kokoh, bukan solusi tambal sulam yang rapuh dan sementara.
Karena itu, kami secara tegas meminta intervensi serius dan konkret dari seluruh tingkatan kepemimpinan. Kepada Bupati Kabupaten Kupang, kami mendesak agar persoalan ini tidak lagi diposisikan sebagai rutinitas tahunan. Tetapkan Amfoang sebagai prioritas strategis pembangunan daerah dengan langkah nyata, terukur, dan diawasi secara transparan.
Kepada Gubernur Nusa Tenggara Timur, kami meminta intervensi kebijakan dan anggaran di tingkat provinsi. Infrastruktur penghubung yang berulang kali putus harus ditangani dengan pendekatan jangka panjang berbasis mitigasi bencana. Jangan biarkan kabupaten berjuang sendiri menghadapi persoalan yang dampaknya luas bagi stabilitas wilayah.
Dan jikalau kondisi fiskal kabupaten dan provinsi tidak cukup, kami minta bupati kab Kupang dan gubernur menyampaikan ke Presiden Republik Indonesia, memohon kehadiran negara secara nyata lewat intervensi APBN melalui kementerian PU. Jika perlu, jadikan Amfoang bagian dari program percepatan pembangunan infrastruktur di wilayah rawan dan terisolasi. suara harapan negara tidak boleh hanya hadir di pusat-pusat pertumbuhan, tetapi juga di tepian yang paling rapuh.
Di tengah kondisi yang mendesak ini, kita juga dihadapkan pada pilihan kebijakan pembangunan lainnya di Kabupaten Kupang, seperti rencana pembangunan Patung Tuhan Yesus di Semau. Kami menghormati iman dan simbol-simbol religius sebagai bagian dari identitas spiritual masyarakat. Namun ketika rakyat masih harus bertaruh nyawa di jalan rusak dan berlumpur, kita perlu bertanya dengan jujur: manakah yang lebih urgen secara moral dan kemanusiaan?
Bagi kami, membangun jalan di Amfoang jauh lebih mendesak daripada membangun simbol kemegahan. Ini bukan soal menolak iman. Justru ini soal menghadirkan iman yang hidup.
Secara teologis, Tuhan Yesus tidak dikenal karena membangun monumen untuk diri-Nya. Ia dikenal karena keberpihakan-Nya pada yang miskin, yang sakit, yang tersisih, dan yang menderita. Ia hadir di tengah penderitaan manusia dan memulihkan kehidupan. Ia mengajarkan bahwa kasih kepada Allah tidak bisa dipisahkan dari kasih kepada sesama.
Maka jika hari ini pemerintah ingin mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, persembahan yang paling hidup adalah kebijakan yang menyelamatkan rakyat kecil.
Membangun jalan di Amfoang adalah bentuk keberpihakan yang nyata. Itu adalah “persembahan yang hidup”, bukan dari batu dan semen yang menjulang tinggi, tetapi dari kebijakan yang memastikan anak-anak bisa sekolah dengan aman, ibu hamil bisa menjangkau fasilitas kesehatan, dan petani bisa menjual hasil kebunnya tanpa harus berjudi dengan maut.
Secara teologis, kebijakan perbaikan jalan Amfoang mencerminkan teladan Kristus yang berpihak pada kemanusiaan dan keadilan. Kristus selalu berdiri di sisi mereka yang paling rentan. Maka pemerintah pun dipanggil untuk berdiri di sisi yang sama.
Ketika anggaran terbatas, pilihan prioritas adalah cermin nilai. Apakah kita mendahulukan simbol, atau keselamatan? Apakah kita membangun yang terlihat megah, atau yang benar-benar menyelamatkan?
Bagi kami, Amfoang hari ini adalah altar kemanusiaan. Di sanalah komitmen diuji. Di sanalah keberpihakan dibuktikan. Kami tidak ingin video-video berikutnya yang viral adalah tentang kecelakaan atau korban. Kami tidak ingin kesadaran bangkit setelah tragedi terjadi.
Amfoang tidak meminta dikasihani. Amfoang menuntut diprioritaskan. Jika jabatan adalah amanah, maka dengarkanlah jeritan yang kini bukan hanya terdengar di lapangan, tetapi juga terpampang jelas di layar-layar telepon genggam kita. Jika kekuasaan adalah tanggung jawab, maka buktikanlah dengan tindakan yang konkret.
Karena setiap tetes hujan yang turun di Amfoang tidak boleh lagi menjadi simbol pengabaian. Ia harus menjadi momentum perubahan.
