SUARANTT.COM,-Di tengah tuntutan perkuliahan yang kerap menyita waktu dan energi, dua mahasiswa program hybrid Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta justru memilih jalur pengabdian yang nyata. Harlan Ludji Leo dan Pasya Manu, mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika angkatan 2025, mengambil peran langsung dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak di pedalaman Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Keduanya merupakan bagian dari program pendidikan khusus hasil kerja sama antara Badan Pendidikan Sinode GMIT dan UKI. Skema hybrid yang dijalankan memungkinkan mahasiswa tetap berada di daerah asal sembari mengakses pendidikan tinggi. Namun, bagi Harlan dan Pasya, kesempatan ini tidak hanya dimaknai sebagai akses akademik, melainkan juga sebagai panggilan untuk memberi dampak langsung bagi masyarakat.
Alih-alih menjalani perkuliahan secara pasif dari balik layar, keduanya turun langsung menjadi guru les tambahan di SD GMIT Kairane sebuah sekolah yang berada di wilayah dengan keterbatasan akses pendidikan.
Menjawab Tantangan Nyata: Matematika dan Literasi Digital
Di sekolah tersebut, Harlan dan Pasya memfokuskan pengajaran pada dua bidang krusial yang sering menjadi kendala di daerah terpencil, yakni Matematika dan literasi digital (komputer/IT).
Upaya ini bukan tanpa alasan. Matematika kerap dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit dan menakutkan, sementara akses terhadap teknologi digital masih sangat terbatas di banyak wilayah pedalaman NTT.
“Kami ingin mengubah cara pandang anak-anak terhadap matematika, bahwa ini bukan sesuatu yang harus ditakuti. Di sisi lain, pengenalan komputer penting agar mereka tidak tertinggal dalam perkembangan zaman,” ujar Harlan.
Langkah ini menunjukkan bahwa ilmu yang mereka peroleh di bangku kuliah tidak berhenti pada tataran teori, tetapi diimplementasikan secara langsung untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat.
- Kolaborasi untuk Dampak yang Lebih Luas
Pengabdian yang dilakukan Harlan dan Pasya tidak berjalan sendiri. Mereka berkolaborasi dengan Komunitas Berea Reap, sebuah komunitas sosial yang aktif mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan infrastruktur di SD GMIT Kairane.
Sinergi ini menghadirkan ekosistem belajar yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Kehadiran mahasiswa sebagai tenaga pendidik muda memperkuat upaya komunitas dalam menciptakan ruang belajar yang lebih adaptif dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Lebih dari Sekadar Kuliah: Wujud Nyata Tri Dharma
Apa yang dilakukan kedua mahasiswa ini mencerminkan implementasi konkret dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Mereka tidak hanya menjadi penerima ilmu, tetapi juga agen perubahan yang membawa dampak langsung bagi lingkungan sekitar.
Program hybrid hasil kolaborasi Sinode GMIT dan UKI pun menunjukkan nilai strategisnya: tidak sekadar membuka akses pendidikan tinggi, tetapi juga mendorong lahirnya generasi muda yang peka terhadap persoalan daerah dan berani mengambil peran dalam menjawabnya.
Di tengah berbagai tantangan pendidikan di NTT, langkah kecil yang dilakukan Harlan Ludji Leo dan Pasya Manu menjadi bukti bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Terkadang, ia lahir dari kepedulian, keberanian, dan konsistensi anak-anak muda yang memilih untuk tetap tinggal dan berkontribusi bagi tanah kelahirannya.
