Home / NEWS / SOROT / Kata “Belis” dan Budaya NTT

Kata “Belis” dan Budaya NTT

Kata “belis” adalah sebuah istilah budaya NTT yang tidak bisa dipisahkan dari ritual adat (sakral) NTT dalam proses perkawinan, selain proses nikah menurut konsep agama. Jika dilihat asal muasal kata “belis” ini, dapat disimpulkan bahwa sebuah adiluhung yang bermaksud membudayakan penghargaan terhadap perempuan dan perkawinan itu sendiri. Itu sebabnya, perkawinan bagi mereka tidak kenal istilah “kawin kebetulan”. Soal kawin harus direncanakan dengan matang dan proses yang berbelit-belit tetapi apik-jelas, (Fidel Hardjo). Filosofis inilah yang menjadi pijakan nenek moyang NTT sehingga kata belis ini pada akhirnya menjadi sebuah warisan budaya yang sakral dalam proses perkawinan ala NTT.

Perkawinan menurut budaya NTT belumlah lengkap jika prosesnya hanya sampai di diproses nikah agama, lalu disempurnakan oleh ritual korban (material) berupa belis yang wajib dipenuhi oleh pihak laki. Padahal sejatinya, belis diberlakukan untuk menghargai kedua pihak. Baik pihak keluarga perempuan maupun keluarga laki-laki berjumpa dengan “penghargaan tertinggi” yaitu cinta lewat ritual belis. Pihak keluarga laki-laki menyerahkan belis sebagai balas budi “air susu ibu”. Tetapi ini maknanya bukan barter. Sebeb belis adalah awal pertalian kekeluargaan yang terjalin kedua pihak keluarga.

Di era modern sekarang, budaya ini menjadi momok tersendiri bagi generasi muda NTT yang hendak menentukan pilihan untuk menikah. Modal cinta, rasa kasih sayang dan  suka sama suka itu tidak cukup untuk membawa  hubungan keplaminan, tetapi untuk melengkapi itu semua adalah persiapan material yang dimaknai dengan belis. Atau singkatnya model itu tidak cukup tetapi harus dibarengi modal, itu baru top markotop.

Prahara ini adalah menjadi sebuah kegalauan massal  masyarakat NTT khususnya generasi muda. Hal ini karena dilatarbelakangi oleh adanya keresahan masyarakat mengenai kata belis. Belis yang dulunya ditekankan pada hewan dan juga tanah sekarang sudah dikonversi dengan uang. Hal ini menyebabkan semakin tingginya jumlah belis yang diminta oleh pihak keluarga perempuan yang ingin menikahkan anaknya. Hal ini menyebabkan, belis yang sediakalanya “ritual penghargaan” dan sekarang menjadi degredasi nilai menjadi “urusan perkara harta”. Segala sesuatu berkaitan dengan persiapan perkawinan dikalkulasikan sedemikian rumit menjadi untuk mendramatisir nominal belis.

Pergeseran nilai atau bentuk “belis” dalam perkawinan adat NTT setidaknya ada tiga faktor, yaitu kemajuan pendidikan, gengsi oarang tua dan pola hidup masyarakat yang semakin modern. Dampak yang terjadi karena pergeseran makna tersebut dalam perkawinan adat NTT adalah timbul pemikiran yang berbeda dalam masyarakat. Disatu sisi dengan diuangkannya “belis” maka, dengan begitu pihak perempuan dapat meminta jumlah uang sebesar dengan standar 50 juta untuk pendidikan SMA, 100 juta untuk pendidikan S1 dan seterusnya semakin tinggi pendidikannya disesuaikan nominalnya, sedangkan untuk pendidikan dibawah SMA semakin rendah. Dengan prinsip sewajarnya anak perempuan yang berpendidikan tinggi dan kedudukan sosial tinggi mendapatkan belis atau penghargaan tinggi. Padahal saat yang sama pula, dengan permintaan belis yang semakin tinggi maka akan menimbulkan akibat yang fatal atau menambah daftar antrian yaitu pencegahan perkawinan dan bahkan kekerasan dalam rumah tangga setelah menikah nanti.

By, Mansur Amriatul (Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru Universitas Negeri Semarang – Asal Manggarai Barat NTT)

About penulis

Scroll To Top
Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better

Twitter

Facebook

Google+