Home / NEWS / SOSIAL / 45 Persen Penduduk Manggarai NTT Belum menikmati Air Bersih
45 Persen Penduduk Manggarai NTT Belum menikmati Air Bersih

45 Persen Penduduk Manggarai NTT Belum menikmati Air Bersih

Wabup DR.Deno Kamelus,SH.MH dalam Workshop Pembentukan SPAMS

Ruteng,suarantt- Wakil Bupati Manggarai, DR.Deno Kamelus,SH,MH pada pembukaan Workshop Pembentukan Asosiasi Sarana Pengelolaan Air Minum dan Sanitasi (SPAMS) Perdesaan, di Aula Efata, Selasa sore, 5/3/2013, mengatakan ada 55% penduduk Manggarai yang menikmati air bersih, dan itu artinya 45% lainnya belum menikmati air bersih.

Menurut Wabup Deno, hasil evaluasinya terhadap pengelolaan program Pamsimas di Manggarai, 21% dari 51 desa yang kinerjanya bagus. Diterangkannya pula bahwa ketersediaan air minum bersih dan sanitasi adalah salah satu upaya pengentasan kemiskinan. Orang dikatakan miskin sesuai 14 penciri kemiskinan adalah jika orang itu masih minum air dari kali atau pancuran.

Sejak tahun 2008, lanjut Deno, ada 51 desa yang mendapatkan program pamsimas, dan hanya 25 desa diantaranya yang sarana air minumnya dialiri air. Sedangkan 14 sarana air minum lainnya yang baru dibangun belum dimanfaatkan.

“Kenapa itu terjadi? Workshop inilah yang akan menjawabnya. Setelah workshop jika tinggal 20 sarana air minum yang masih dapat dimanfaatkan masyarakat maka gagallah workshop ini. Namun, jika sarana air minum yang dapat dimanfaatkan meningkat, maka workshop ini berhasil,” ujarnya.

Oleh karena itu, Wabup Deno berharap Badan Pengelolaan Sistem Pembangunan Air Minum Bersih dan Sanitasi di desa jadi embrio penguatan kapasitas kelembagaan. Terutama, lanjut Deno, menyambut otonomi desa yang termuat dalam naskah akademik RUU Desa halaman 102 dan sedang dibahas di DPR-RI, rencananya desa akan dialokasikan anggaran langsung dari pusat sebesar Rp 500 Juta hingga Rp 1 miliar.

“Saya harus katakan hal ini agar peningkatan kapasitas manusia dan kelembagaan di tingkat desa menjadi pekerjaan kita saat ini agar di masa mendatang kita mampu menerima tanggug jawab pengelolaan anggaran secara professional,” tandasnya.

Ketua Panitia Workshop Pembentukan Asosiasi Sarana Pengelolaan Air Minum dan Sanitasi (SPAMS) Perdesaan, Fransiskus Marselinus Pait,ST pada pembukaan kegiatan Workshop yang berlangsung selama tiga hari itu, mengatakan program Pamsimas merupakan salah satu program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan penyediaan layanan air minum, sanitasi dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terutama dalam menurunkan angka penyakit diare dan penyakit lainnya yang ditularkan melalui air dan lingkungan.

Saat ini di Manggarai, program Pamsimas telah memasuki tahun keempat sejak tahun 2088 hingga 2012 di 65 desa. Di tingkat masyarakat, Pamsimas telah memelopori pembangunan prasarana dan sarana Sistem Penyediaan Air Minum dan Sanitasi (SPAMS).

Pada tingkat desa dan kelurahan, Pamsimas menghasilkan sarana air minum, kegiatan promosi penyehatan lingkungan. Program jangka menengah bidang sarana air minum dan penyehatan lingkungan dan dukungan kelembagaan (BP-SPAMS) untuk menjamin penyelenggaraan pelayanan air minum dan perubahan perilaku masyarakat. Pada tingkatan kabupaten, Pamsimas menghasilkan berbagai kegiatan pengembangan kapasitas bagi pemerintah daerah. Pamsimas, kata Pait, tidak hanya mendukung kegiatan secara regular namun juga sampai pada terbentuknya BP-SPAMS sebagai lembaga pengelola sarana air minum di tingkat desa.

Dikatakannya pula, tujuan dari workshop ini untuk memastikan dukungan dan keterlibatan masing-masing pemangku kepentingan dalam keberlanjutan pengelolaan SPAMS, sosialisasi dan diskusi mengenai konsep pengelolaan keberlanjutan SPAMS Perdesaan, menumbukan kebutuhan bersama dalam kerangka kualitas pelayanan, mengembangkan BP-SPAMS dan pengelola SPAMS desa yang mandiri, memanfaatkan berbagai sumber daya yang tersedia di tingkat desa, dan sosialisasi mengenai berbagai insentif yang disediakan Pamsimas sebagai salah satu bentuk penghargaan kepada kabupaten dan desa/kelurahan yang mempunyai potensi keberlanjutan yang baik.

Hasil yang diharapkan, kata Pait, adalah komitmen dari berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung dan berpartisipasi aktif dalam pengelolaan dan keberlanjutan SPAMS perdesaan, pembentukan dan penguatan Asosiasi Pengelola SPAMS, komitmen untuk pembinaan dan penguatan kader pemberdayaan masyarakat bidang Air Minum dan Penyehatan Lingkungan. Dan memilih SKPD-SKPD atau unit kerja Pemerintah Daerah yang terlibat sebagai pengelola utama program keberlanjutannya sebagai salah satu bentuk pelaksanaan komitmen pemerintah daerah dalam melakukan pendampingan dan pembinaan terhadap Asosiasi SPAMS di tingkat kabupaten dan BP-SPAMS di tingkat desa/kelurahan. (Alfan Manah)

 

About penulis

Scroll To Top